Saturday, January 3, 2026

Communication Responsibility: Kunci Harmonisnya Sebuah Organisasi

Pernah nggak sih kamu merasa kerjaan jadi ribet gara-gara salah paham? Atau pernah lihat suasana kantor jadi kurang nyaman karena info yang beredar nggak jelas arahnya?

Nah, di sinilah communication responsibility punya peran penting banget.

Apa sih Communication Responsibility itu?

Sederhananya, ini adalah kemampuan dan komitmen setiap orang dalam organisasi untuk berkomunikasi dengan jujur, jelas, dan bertanggung jawab.

Bukan cuma ngomong yang enak didengar, tapi memastikan pesan kita tepat sasaran, nggak multitafsir, dan tidak merugikan orang lain.

Ibaratnya, kalau komunikasi itu kendaraan, maka responsibility adalah rem yang bikin semua tetap aman dan terkendali.

Kenapa Communication Responsibility Penting Banget?

1. Mencegah Salah Paham yang Bikin Drama

Salah dengar, salah tangkap, salah paham — tiga hal yang sering bikin suasana kerja jadi keruh.

Dengan komunikasi yang bertanggung jawab, tiap orang bisa meminimalkan miskomunikasi dan memastikan semua paham arah yang sama.

2. Bangun Kepercayaan Tanpa Drama

Kepercayaan itu nggak datang dari kata-kata manis, tapi dari komunikasi yang konsisten dan jujur.

Kalau semua anggota tim terbiasa menyampaikan informasi apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, otomatis rasa percaya akan tumbuh dengan sendirinya.

3. Produktivitas Naik, Stress Turun

Komunikasi yang jelas bisa membuat pekerjaan lebih cepat selesai.

Instruksi jelas → Eksekusi tepat → Hasil optimal.

Tanpa harus bolak-balik klarifikasi atau mengulang pekerjaan hanya karena salah info.

4. Budaya Kerja Jadi Lebih Positif

Organisasi yang menerapkan communication responsibility biasanya punya vibe yang lebih sehat.

Anggota tim lebih nyaman, tidak saling curiga, dan lebih fokus pada tujuan bersama.

Gimana Cara Menjaga Communication Responsibility?

✔ 1. Jujur & Transparan

Jangan takut berkata jujur. Yang penting tetap sopan dan profesional.

✔ 2. Dengarkan dengan Empati

Kadang kita terlalu fokus ingin didengar, sampai lupa mendengarkan.

Dengarkan dulu, baru merespons.

✔ 3. Sampaikan Info dengan Jelas

Hindari info yang “menggantung”.

Pastikan apa yang kamu sampaikan mudah dipahami, lengkap, dan tepat.

✔ 4. Stop Gossip dan Rumor

Gossip itu bikin hubungan kerja retak perlahan-lahan.

Kalau nggak jelas sumbernya, jangan ikut menyebarkan.

Komunikasi yang Baik Itu Kekuatan

Communication responsibility bukan sekadar budaya kerja, tapi investasi jangka panjang untuk menciptakan organisasi yang solid dan profesional.

Mulai dari hal kecil: cara kita bicara, mendengar, hingga menyampaikan informasi.

Karena di balik organisasi yang hebat, selalu ada komunikasi yang sehat.



Friday, January 2, 2026

Melampaui Angka: Makna Prestasi Peserta Didik dalam Pendidikan Masa Kini

Oleh: Drs. Ponadi, M.Si

Koordinator Pengawas Bina – Cabdin Wilayah Jember

Dalam dunia pendidikan, kita sering terjebak pada cara pandang lama yang mengukur keberhasilan peserta didik hanya melalui angka: nilai rapor, skor TKA, hasil Asesmen Nasional, atau capaian ujian lainnya. Angka-angka itu memang penting sebagai standar evaluasi, namun sesungguhnya hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan proses belajar. Pendidikan yang sejati tidak hanya membentuk kemampuan akademik, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berbuat nyata, mengambil keputusan bijak, dan siap menghadapi tuntutan kehidupan global.

Prestasi Tidak Hanya Tentang Nilai, Tetapi Tentang Kemampuan Nyata

Prestasi peserta didik bukan sekadar bukti bahwa mereka dapat menjawab soal, tetapi bukti bahwa mereka mampu mengimplementasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah esensi kompetensi abad ke-21.

Anak dikatakan berprestasi ketika mereka mampu:

  • Menyelesaikan masalah secara kreatif dan logis.
  • Membuat karya inovatif, baik di bidang akademik, seni, teknologi, maupun sosial.
  • Mengkomunikasikan ide dengan efektif.
  • Berkolaborasi dalam tim dan menghargai keragaman.
  • Beradaptasi menghadapi situasi baru.

Dengan kata lain, prestasi bukan hanya tentang apa yang mereka tahu, tetapi apa yang dapat mereka lakukan dengan pengetahuan itu.

Kemampuan Mengambil Keputusan: Indikator Prestasi Hakiki

Salah satu tujuan besar pendidikan adalah membentuk peserta didik yang mampu mengambil keputusan bijak dalam hidupnya. Ini meliputi kemampuan:

  • Mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
  • Menilai risiko dan manfaat.
  • Mempertahankan integritas ketika menghadapi tekanan.
  • Memilih tindakan yang bertanggung jawab dan bermoral.

Keputusan bijak tidak pernah lahir dari hafalan, tetapi dari proses pembelajaran yang reflektif dan bermakna.

Karya: Wujud Konkrit Pembelajaran Bermakna

Hasil karya peserta didik adalah bentuk prestasi yang paling nyata. Karya menunjukkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, penguasaan teknologi, ketekunan, dan kepercayaan diri. Tidak ada angka yang lebih kuat daripada sebuah karya yang dapat dilihat, dipahami, dan dirasakan manfaatnya.

Inilah mengapa pembelajaran berbasis proyek, pembiasaan riset kecil, dan kegiatan kreatif harus terus didorong di sekolah-sekolah.

Prestasi dan Kesiapan Menghadapi Tantangan Global

Di era globalisasi dan digitalisasi, tuntutan dunia kerja dan masyarakat semakin kompleks. Peserta didik perlu disiapkan agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang.

Kompetensi yang kini dibutuhkan mencakup:

  • Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi lintas budaya.
  • Literasi digital, data, dan teknologi.
  • Adaptabilitas menghadapi perubahan yang cepat.
  • Kreativitas dan inovasi.
  • Kepemimpinan dan kolaborasi.

Prestasi belajar yang bermakna harus mencerminkan kesiapan peserta didik menghadapi dinamika global.

Ketika Angka Menjadi Segalanya: Risiko Kecurangan Akademik

Kita tidak menutup mata: ketika birokrasi menekan sekolah untuk menghasilkan angka tinggi sebagai indikator mutu, maka potensi kecurangan bisa muncul.

Peserta didik merasa tertekan; guru merasa diburu target; sekolah ingin mempertahankan citra.

Fokus berlebihan pada skor dapat:

  • Menggerus integritas pendidikan.
  • Mengurangi makna proses belajar.
  • Mendorong manipulasi nilai atau perilaku tidak etis.
  • Menghasilkan lulusan yang kuat di atas kertas namun lemah di kemampuan nyata.

Maka, sudah saatnya evaluasi pendidikan lebih menitikberatkan pada kompetensi, karakter, dan proses pembelajaran, bukan hanya skor.

Pendidikan untuk Kehidupan

Prestasi tertinggi seorang peserta didik bukan ketika ia mendapat nilai sempurna, melainkan ketika ia siap menjalani hidup dengan tangguh dan bermartabat. Pendidikan harus menyiapkan peserta didik untuk:

  • Mandiri secara emosional dan intelektual.
  • Siap bekerja dan berkontribusi dalam masyarakat.
  • Mampu memecahkan persoalan hidup yang nyata.
  • Menjadi insan yang beretika, kreatif, dan bertanggung jawab.

Inilah wujud prestasi sejati—prestasi yang tidak memudar meski waktu berlalu.

Mari Kembalikan Ruh Pendidikan

Sebagai Koordinator Pengawas, saya mengajak seluruh pendidik, orang tua, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengembalikan makna luhur pendidikan.

Nilai dan skor tetap penting, tetapi jangan sampai mengaburkan tujuan hakikinya.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia—membangun kemampuan, karakter, dan harapan.

Ketika peserta didik mampu berkarya, mengambil keputusan bijak, menghadapi tantangan global, dan menata masa depannya dengan keyakinan, di situlah prestasi sejati lahir.

Tuesday, December 30, 2025

Totokromo sebagai Alat Networking

Merawat Relasi, Membangun Kepercayaan, dan Menjaga Martabat Sosial

Di tengah era digital yang serba cepat, networking sering direduksi menjadi sekadar pertukaran kartu nama, koneksi media sosial, atau relasi transaksional. Padahal, dalam budaya Nusantara—khususnya Jawa—networking telah lama memiliki makna yang jauh lebih dalam, berakar pada etika, tata krama, dan penghormatan sosial. Salah satu bentuk nyata dari nilai tersebut adalah totokromo.

Totokromo bukan sekadar tata bahasa atau unggah-ungguh berbicara, melainkan alat sosial yang efektif untuk membangun, menjaga, dan memperluas jaringan relasi secara bermartabat dan berkelanjutan.

Memahami Totokromo dalam Konteks Sosial

Totokromo merujuk pada kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam komunikasi, baik melalui pilihan bahasa, sikap tubuh, intonasi, maupun gestur, sesuai dengan konteks lawan bicara. Di dalamnya terkandung nilai: rasa hormat, kesadaran posisi sosial, empati dan tepa salira, etika dalam relasi.

Dalam praktiknya, totokromo mengajarkan bahwa relasi tidak dibangun dengan dominasi, tetapi dengan keselarasan dan saling menghargai.

Totokromo dan Esensi Networking

Networking yang efektif bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tetapi seberapa kuat kepercayaan yang terbangun. Totokromo berperan penting dalam hal ini karena:

  • Menciptakan Kesan Pertama yang Positif, Cara menyapa, berbicara, dan bersikap yang sesuai membuat lawan bicara merasa dihargai. Kesan pertama yang baik sering kali menjadi pintu masuk relasi jangka panjang.

  • Membangun Rasa Aman dan Nyaman, Totokromo menurunkan sekat psikologis. Orang merasa lebih terbuka ketika diperlakukan dengan sopan dan penuh empati.

  • Menjaga Martabat Semua Pihak, Dalam networking berbasis totokromo, tidak ada pihak yang direndahkan atau ditinggikan secara berlebihan. Semua relasi dibangun dalam bingkai saling menghormati.

Totokromo dalam Dunia Profesional dan Pendidikan

Di dunia pendidikan, birokrasi, dan organisasi sosial, totokromo berfungsi sebagai modal sosial yang sangat berharga. Kepala sekolah, guru, dosen, maupun pejabat publik yang memahami totokromo akan lebih mudah:

  • Menjalin kolaborasi lintas institusi
  • Mengelola perbedaan pendapat
  • Membangun kepercayaan dengan mitra kerja
  • Menjaga hubungan meski terjadi dinamika kepentingan

Networking berbasis totokromo tidak bersifat instan, tetapi berkelanjutan dan berakar kuat.

Totokromo vs Networking Transaksional

Totokromo sebagai Alat Networking

Perbedaan mendasar antara totokromo dan networking transaksional terletak pada orientasinya:

  • Networking transaksional: cepat, pragmatis, sering kali jangka pendek
  • Totokromo: sabar, etis, dan berorientasi hubungan jangka panjang

Totokromo mengajarkan bahwa hasil tidak selalu harus diraih hari ini, tetapi relasi yang baik akan membuka banyak peluang di masa depan.

Relevansi Totokromo di Era Digital

Di era media sosial dan komunikasi daring, totokromo justru semakin relevan. Etika berbahasa, kesantunan berpendapat, dan kemampuan membaca konteks menjadi kunci agar jaringan digital tidak berubah menjadi konflik terbuka.

Totokromo membantu kita:

  • Berkomunikasi efektif di ruang publik digital
  • Menghindari kesalahpahaman
  • Menjaga reputasi personal dan institusional

Totokromo sebagai Soft Skill Strategis

Jika ditarik dalam perspektif kompetensi abad ke-21, totokromo sejatinya adalah soft skill tingkat tinggi yang mencakup:

  • Komunikasi interpersonal
  • Kecerdasan emosional
  • Kesadaran budaya
  • Etika profesional

Inilah kompetensi yang tidak tergantikan oleh teknologi dan justru semakin dicari dalam dunia kerja modern.

Totokromo bukan warisan masa lalu yang usang, melainkan modal sosial masa depan. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, networking yang kuat hanya dapat dibangun di atas fondasi etika, penghormatan, dan kepercayaan.

Totokromo mengajarkan kita bahwa relasi yang baik bukan dibangun dari kepentingan, tetapi dari cara memanusiakan manusia.

Dengan menjadikan totokromo sebagai alat networking, kita tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga menjaga martabat diri dan orang lain dalam setiap relasi yang terbangun.

Sunday, December 28, 2025

Ketika Quantum Computing Mengubah Cara Kita Belajar dan Bekerja

Oleh: Syaiful Rahman, M. Pd.

Perubahan teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Hal ini selalu diikuti oleh perubahan cara berpikir, cara belajar, cara menilai, dan cara memilih sumber daya manusia. Quantum Computing adalah salah satu simbol paling kuat dari perubahan tersebut. Bukan semata karena kecanggihannya, tetapi karena hal ini merepresentasikan pergeseran paradigma dunia kerja dan kompetensi manusia.

Dunia pendidikan hari ini berada pada titik kritis: di satu sisi dituntut menyiapkan peserta didik untuk masa depan yang belum sepenuhnya dapat diprediksi, di sisi lain masih terjebak pada sistem pembelajaran dan asesmen yang linier, seragam, dan berorientasi hasil jangka pendek. Di sinilah relevansi Quantum Computing sebagai metafora sekaligus inspirasi bagi reformasi pendidikan.

Permintaan Pasar: Dari Penguasaan Konten ke Kompetensi Adaptif

Pasar kerja global—baik di sektor industri, teknologi, pendidikan, maupun layanan publik—semakin meninggalkan pendekatan berbasis ijazah dan hafalan. Yang dicari bukan lagi sekadar apa yang diketahui, tetapi bagaimana seseorang berpikir dan beradaptasi.

Sejalan dengan prinsip Quantum Computing yang bekerja dalam ruang kemungkinan, pasar kerja kini menuntut kompetensi berikut:

  • Berpikir kritis dan sistemik
  • Kemampuan memecahkan masalah kompleks
  • Literasi data dan teknologi
  • Kreativitas dan inovasi
  • Kemampuan belajar ulang (relearning dan unlearning)
  • Kecerdasan sosial, etika, dan kolaborasi

Kompetensi-kompetensi ini tidak bisa dibentuk melalui pembelajaran yang semata-mata mengejar ketuntasan materi. Namun membutuhkan pembelajaran mendalam, kontekstual, dan reflektif.

Pembelajaran dalam Paradigma “Quantum”

Quantum Computing mengajarkan bahwa satu masalah dapat memiliki banyak jalur solusi. Pendidikan yang relevan dengan permintaan pasar harus mengadopsi prinsip yang sama.

Implikasinya dalam pembelajaran:

  • Peserta didik diberi ruang untuk mengeksplorasi banyak kemungkinan jawaban
  • Proses berpikir lebih dihargai daripada sekadar jawaban akhir
  • Pembelajaran berbasis proyek, riset kecil, dan pemecahan masalah nyata diperkuat
  • Interdisiplin dan lintas konteks menjadi keniscayaan

Dalam konteks ini, sekolah dan perguruan tinggi bukan lagi pabrik lulusan, tetapi ekosistem pengembangan potensi manusia.

Penerimaan Mahasiswa Baru: Seleksi yang Perlu Bertransformasi

Sistem penerimaan mahasiswa baru selama ini cenderung menekankan kemampuan kognitif sempit: kecepatan menjawab, ketepatan memilih, dan penguasaan materi tertentu. Padahal, dunia perguruan tinggi dan dunia kerja membutuhkan mahasiswa yang:

  • Mampu berpikir abstrak dan reflektif
  • Tahan menghadapi ketidakpastian
  • Memiliki motivasi belajar jangka panjang
  • Mampu mengintegrasikan pengetahuan lintas bidang

Jika ditarik pada paradigma Quantum Computing, seleksi mahasiswa seharusnya tidak hanya mencari “nilai tertinggi”, tetapi profil potensi terbaik. Ini dapat dilakukan melalui:

  • Asesmen berbasis pemecahan masalah kontekstual
  • Portofolio proyek dan karya
  • Tes literasi berpikir dan penalaran
  • Wawancara atau asesmen non-kognitif yang terstruktur

Dengan demikian, seleksi tidak hanya menyaring, tetapi juga memetakan potensi.

Lapangan Kerja dan Ketidaksesuaian (Mismatch) Kompetensi

Salah satu masalah besar pendidikan adalah ketidaksesuaian antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Banyak lulusan berprestasi secara akademik, tetapi gagap menghadapi masalah nyata.

Quantum Computing memberi pesan penting: sistem kompleks tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang:

  • Fleksibel menghadapi perubahan peran
  • Mampu bekerja dalam tim lintas disiplin
  • Cepat belajar teknologi baru
  • Memiliki integritas dan etos kerja kuat

Pendidikan harus berhenti mengejar kepastian semu berupa angka nilai, dan mulai menyiapkan lulusan yang siap hidup dan bekerja dalam ketidakpastian.

Sistem Asesmen: Dari Mengukur Hasil ke Memahami Proses

Paradigma asesmen saat ini masih didominasi oleh: Tes pilihan ganda, Penilaian sumatif, Fokus pada skor dan peringkat

Dalam perspektif Quantum Computing, pendekatan ini terlalu menyederhanakan realitas belajar yang kompleks. Asesmen seharusnya:

  • Bersifat formatif dan berkelanjutan
  • Mengukur proses berpikir, strategi, dan refleksi
  • Menggunakan berbagai instrumen (portofolio, proyek, observasi, refleksi diri)
  • Memberikan umpan balik bermakna, bukan sekadar angka
  • Asesmen bukan alat seleksi semata, melainkan alat pembelajaran itu sendiri.

Peran Guru dan Pemimpin Pendidikan

Di tengah tuntutan pasar dan perubahan teknologi, peran guru dan kepala sekolah menjadi semakin strategis. Mereka bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi:

  • Penjaga nilai kemanusiaan dalam pendidikan
  • Pengarah pengembangan kompetensi masa depan
  • Penghubung antara dunia belajar dan dunia kerja

Pemimpin pendidikan dengan quantum mindset mampu melihat pendidikan sebagai sistem hidup, bukan mesin birokrasi.

Quantum Computing mengingatkan kita bahwa masa depan tidak bisa dihadapi dengan cara berpikir masa lalu. Pendidikan yang relevan dengan permintaan pasar, seleksi mahasiswa, dan dunia kerja bukanlah pendidikan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling adaptif, manusiawi, dan bermakna.

"Ketika pasar menuntut kompetensi kompleks, pendidikan tidak boleh menjawabnya dengan asesmen sederhana."

Sudah saatnya pembelajaran, seleksi, dan asesmen dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem yang menyiapkan manusia utuh—cerdas secara intelektual, tangguh secara moral, dan lentur menghadapi perubahan.

Friday, December 26, 2025

Mengapa Problem Solving Lebih Penting dari Sekadar Nilai?

Oleh: Syaiful Rahman, M.Pd

Praktisi Pendidikan 

Dalam kehidupan nyata, manusia jarang dihadapkan pada persoalan yang memiliki satu jawaban benar. Sebagian besar masalah justru kompleks, kontekstual, dan sarat konsekuensi. Oleh karena itu, kecerdasan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menjawab dengan cepat, melainkan sebagai kemampuan mengurai masalah, menyusun berbagai opsi solusi, serta mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Pembelajaran di sekolah semestinya menjadi ruang latihan aman untuk itu—tempat peserta didik belajar berpikir sebelum memutuskan, bukan sekadar mengejar hasil akhir.

Kecerdasan Problem Solving dan Pengambilan Keputusan Bijak

Secara teoretis, problem solving dan decision making adalah dua proses yang saling terkait. Problem solving berfokus pada menghasilkan alternatif, sedangkan pengambilan keputusan bijak berfokus pada memilih alternatif terbaik dengan pertimbangan rasional, etis, dan kontekstual.

Kebijaksanaan dalam mengambil keputusan ditandai oleh:

  • Kemampuan menunda reaksi emosional
  • Kesadaran akan dampak jangka pendek dan jangka panjang
  • Pertimbangan nilai, norma, dan konsekuensi sosial
  • Kesiapan menerima risiko dan tanggung jawab

Dengan kata lain, tidak semua solusi yang benar secara logika selalu bijak secara moral atau kontekstual.

Mengurai Opsi Solusi sebagai Jalan Menuju Kebijaksanaan

Mengurai opsi solusi melatih peserta didik untuk:

  • Tidak terburu-buru mengambil keputusan
  • Membandingkan berbagai kemungkinan
  • Menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Seorang siswa yang menghadapi konflik dengan teman tidak serta-merta membalas, tetapi mempertimbangkan: berdialog, meminta mediasi guru, atau memberi waktu menenangkan diri.

Dalam pengelolaan keuangan keluarga, keputusan bijak tidak hanya memilih solusi tercepat, tetapi yang paling berkelanjutan dan minim risiko.

Proses ini membentuk kearifan berpikir, bukan sekadar kecerdasan teknis.

Implikasi dalam Pembelajaran

Pembelajaran yang berorientasi pada problem solving harus memberi ruang pada latihan mengambil keputusan bijak, bukan hanya menemukan jawaban.

Strategi yang dapat diterapkan:

  • Masalah Terbuka dengan Banyak Solusi, Peserta didik diminta memilih satu solusi dan menjelaskan alasan pemilihannya.
  • Diskusi Etika dan Dampak Keputusan, Guru mengajak peserta didik membahas: “Apa dampaknya jika solusi ini diterapkan?”
  • Simulasi dan Role Play, Peserta didik berperan sebagai pengambil keputusan dalam situasi nyata.
  • Refleksi Keputusan, Peserta didik diajak mengevaluasi: Apakah keputusan ini adil?, Siapa yang terdampak?, Apa risiko yang mungkin muncul?

Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya melatih kecerdasan kognitif, tetapi juga kedewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak.

Dari Kelas ke Kehidupan Nyata

Individu yang terbiasa mengurai opsi dan mengambil keputusan secara bijak akan menunjukkan karakter:

  • Tenang dalam tekanan
  • Tidak reaktif dan impulsif
  • Mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai
  • Bertanggung jawab atas pilihannya

Dalam kepemimpinan, kecerdasan ini tampak pada kemampuan memilih keputusan yang tepat, manusiawi, dan berkelanjutan, bukan sekadar populer atau instan.

Kecerdasan dalam mengurai opsi-opsi solusi menjadi bermakna ketika diakhiri dengan pengambilan keputusan yang bijak. Pembelajaran yang sejati bukanlah sekadar melatih peserta didik menemukan jawaban, melainkan membimbing mereka berpikir matang sebelum memilih.

Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari kecerdasannya dalam berpikir, tetapi dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan—baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan.

Membangun Kualitas Pembelajaran dari Hulu ke Hilir: Refleksi Peran Pemerintah, Sekolah, dan Guru

 

Oleh: Drs. Ponadi, M.Si

Hasil berbagai asesmen nasional, termasuk TKA, seharusnya tidak hanya dibaca sebagai capaian peserta didik, tetapi sebagai indikator kesehatan sistem pendidikan secara keseluruhan. Jika kualitas penalaran peserta didik masih menjadi persoalan, maka perbaikannya tidak bisa parsial. Pemerintah, sekolah, dan guru memiliki peran yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Peran Pemerintah: Saatnya Menyederhanakan, Bukan Menambah Beban

Pemerintah perlu melakukan refleksi serius terhadap beban mata pelajaran yang terlalu banyak. Realitas di sekolah menunjukkan bahwa terlalu banyak mata pelajaran justru menggerus kedalaman belajar. Peserta didik berpindah dari satu mapel ke mapel lain tanpa cukup waktu untuk memahami secara mendalam.

Idealnya, jumlah mata pelajaran cukup maksimal 10 mapel. Dengan jumlah yang lebih ramping, pembelajaran dapat difokuskan pada: penguatan konsep dasar, pengembangan nalar, dan keterkaitan antarmateri.

Selain itu, keberadaan KKM atau KKTP perlu dikaji ulang. Dalam praktik, angka-angka tersebut sering kali menjadi beban administratif dan psikologis, baik bagi guru maupun murid. Pembelajaran akhirnya terjebak pada kejar nilai, bukan kejar pemahaman. Yang lebih penting bukanlah angka ketuntasan, tetapi proses belajar yang benar dan bermakna.

Peran Sekolah: Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Terpercaya

Sekolah adalah ruang tumbuhnya proses belajar. Oleh karena itu, sekolah harus terus berbenah agar menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Kondisi fisik ruang kelas, termasuk suhu ruangan yang semakin panas akibat perubahan iklim, tidak bisa diabaikan. Ruang kelas yang pengap dan panas secara langsung menurunkan konsentrasi dan kualitas interaksi belajar.

Selain aspek fisik, sekolah juga harus menjaga iklim pembelajaran yang kondusif. Kepala sekolah memiliki peran strategis untuk:

  • aktif melaksanakan supervisi pembelajaran,
  • memastikan guru mengajar dengan pendekatan yang tepat,
  • serta menindaklanjuti hasil supervisi melalui evaluasi dan pendampingan.

Lebih jauh, sekolah harus mampu membangun kepercayaan di kalangan warga sekolah dan masyarakat, terutama dalam pengelolaan anggaran. Transparansi dan akuntabilitas akan memudahkan tumbuhnya partisipasi dan dukungan, termasuk sumbangan sukarela dari wali murid dan masyarakat. Kepercayaan adalah modal sosial yang tidak bisa dibangun secara instan, tetapi sangat menentukan keberlanjutan mutu sekolah.

Peran Guru: Menguatkan Fondasi Nalar dari Awal

Di ruang kelas, guru memegang peran paling langsung dalam membentuk cara berpikir murid. Pada 1–2 bulan pertama pembelajaran, guru seharusnya mengutamakan perbaikan konsep-konsep dasar Matematika. Tidak sedikit murid membawa miskonsepsi dari kelas sebelumnya, dan jika dibiarkan, akan menjadi penghambat serius pada materi berikutnya.

Guru perlu menempatkan pengembangan daya nalar sebagai prioritas utama. Hal ini dapat dilakukan dengan: 

  • banyak memberikan pertanyaan pemantik,
  • mengajak murid menjelaskan alasan di balik jawaban,
  • serta membangun diskusi dari kesalahan yang muncul.

Guru juga harus menjadi pendeteksi dini kesulitan murid. Saat latihan soal, guru tidak cukup berdiri di depan kelas, tetapi perlu berkeliling, memperhatikan langkah-langkah murid dalam menyelesaikan soal. Ketika ditemukan kekeliruan, guru segera mengangkatnya sebagai pertanyaan pemantik lanjutan, bukan langsung memberi jawaban.

Menghafal Boleh, Memahami Wajib

Murid boleh menghafal, tetapi pemahaman harus datang sebelum hafalan. Contoh sederhana seperti:

  • 3 × 2 = 2 + 2 + 2
  • 2 × 3 = 3 + 3

Keduanya sama hasilnya, tetapi maknanya berbeda. Pemahaman ini bisa diperkuat melalui konteks kehidupan sehari-hari, misalnya aturan minum obat pada resep dokter. Kesalahan memahami aturan minum obat bisa berakibat fatal, sebagaimana kesalahan memahami konsep matematika akan berakibat pada kesalahan berpikir berikutnya.

Hal yang sama berlaku pada:

  • operasi pembagian,
  • penjumlahan dan pengurangan bilangan positif–negatif,
  • pecahan dan desimal.

Contoh seperti:

  • 0 ÷ 1 = 0
  • 1 ÷ 0 = tak terdefinisi (tak terhingga)

perlu dijelaskan seterang-terangnya, bukan sekadar dihafalkan.

Matematika dan Kehidupan Nyata

Matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Simbol arus listrik bolak-balik, misalnya, dapat dijelaskan melalui grafik sinusoida atau fungsi sinus yang terlihat pada osiloskop. Contoh-contoh semacam ini menunjukkan bahwa Matematika bukan ilmu abstrak yang jauh dari realitas.

Karena itu, guru perlu memiliki wawasan luas tentang kehidupan sehari-hari, agar mampu mengaitkan konsep dengan realitas. Keterkaitan inilah yang menumbuhkan makna dan daya ingat jangka panjang pada murid.

Beragam Cara, Satu Kebenaran

Dalam latihan soal, guru sebaiknya memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, minimal dua cara yang berbeda tetapi sama-sama benar. Dengan demikian, murid belajar bahwa Matematika bukan sekadar satu jalan lurus, melainkan ruang berpikir yang kaya.

Ketika daya nalar murid sudah berkembang, maka pada bulan kedua, ketiga, dan seterusnya, guru cukup berperan sebagai pengarah. Murid akan mulai mampu menyelesaikan soal secara mandiri. Selalu ada murid yang menemukan solusi lebih dulu, dan murid lain menyusul dengan cara yang berbeda.

Pada tahap ini, guru ibarat memegang remote, mengarahkan alur, sementara murid bergerak aktif dalam pembelajaran.

Jika daya nalar murid berkembang dengan baik, mereka akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan Matematika dengan cepat, tepat, dan tuntas. Namun capaian ini hanya mungkin terwujud jika seluruh unsur pendidikan bergerak searah: Pemerintah menyederhanakan kebijakan, sekolah membangun lingkungan dan kepercayaan, serta guru menanamkan fondasi berpikir yang benar sejak awal.

Mutu pendidikan tidak lahir dari banyaknya mata pelajaran, tetapi dari kedalaman pemahaman dan kejernihan cara berpikir.

Wednesday, December 24, 2025

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pembelajaran: Menempatkan Manusia sebagai Subjek Utama Pendidikan

Oleh: Syaiful Rahman, M.Pd

Dalam diskursus pendidikan kontemporer, pembelajaran kerap direduksi menjadi persoalan teknologi: platform apa yang digunakan, aplikasi apa yang paling mutakhir, atau perangkat digital apa yang paling canggih. Seolah-olah kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang diadopsi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam melalui lensa filsafat pendidikan—khususnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi—kita akan menemukan bahwa esensi pembelajaran tidak pernah berpindah dari manusia itu sendiri.

Ontologi Pembelajaran: Hakikat Belajar adalah Proses Kemanusiaan

Secara ontologis, pembelajaran adalah proses kemanusiaan. Hal ini berangkat dari hakikat manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan memaknai pengalaman hidupnya. Peserta didik bukanlah objek yang sekadar menerima informasi, melainkan subjek yang secara aktif membangun makna atas apa yang dipelajarinya.

Dalam konteks ini, teknologi tidak memiliki eksistensi mandiri sebagai penentu kualitas belajar. Teknologi hanyalah entitas instrumental. Hakikat pembelajaran tetap bertumpu pada relasi manusia: guru dengan peserta didik, peserta didik dengan lingkungannya, serta peserta didik dengan realitas kehidupan yang dihadapinya. Ketika relasi ini melemah, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, pembelajaran akan kehilangan ruhnya.

Epistemologi Pembelajaran: Pengetahuan Tidak Sekadar Ditransfer, tetapi Dimaknai

Dari sisi epistemologi, pengetahuan tidak lahir dari transfer informasi semata, melainkan dari proses pemaknaan yang mendalam. Belajar bukan hanya mengetahui apa, tetapi memahami mengapa dan bagaimana pengetahuan itu relevan dengan kehidupan nyata.

Saat ini, kita sering terjebak pada perbincangan tentang kesenjangan teknologi (technology gap), seolah itu adalah problem utama pendidikan. Padahal, kebutuhan mendasar peserta didik justru terletak pada pendampingan belajar yang memungkinkan mereka berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna tidak bergantung pada pendekatan administratif atau terminologi kebijakan semata, tetapi pada kemampuan guru membimbing peserta didik untuk menemukan makna personal dan sosial dari apa yang mereka pelajari.

Pengetahuan menjadi hidup ketika ia beresonansi dengan pengalaman peserta didik, menjawab kebutuhan zamannya, dan memberi arah bagi masa depannya.

Aksiologi Pembelajaran: Nilai, Etika, dan Tujuan Pendidikan

Secara aksiologis, pembelajaran bermuara pada nilai dan tujuan. Untuk apa peserta didik belajar? Nilai apa yang dibangun? Manfaat apa yang dirasakan bagi kehidupan pribadi, sosial, dan kemanusiaan?

Teknologi, dalam perspektif nilai, hanyalah alat bantu,bukan menjadi “raja” yang mendikte arah pendidikan. Ketika teknologi dijadikan tujuan, bukan sarana, pembelajaran berisiko kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya. Sebaliknya, ketika teknologi ditempatkan secara proporsional—sebagai alat yang mendukung kerja guru, memperkaya pengalaman belajar, dan memfasilitasi diferensiasi—teknologi akan menjadi kekuatan yang bermakna.

Di sinilah peran krusial sumber daya manusia: guru dan tenaga kependidikan yang berintegritas, reflektif, dan visioner, serta sistem pengelolaan pendidikan yang berpihak pada proses, bukan sekadar hasil instan.

Mengembalikan Martabat Pembelajaran

Pada akhirnya, kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Guru bukan operator teknologi, melainkan pendidik yang menuntun makna. Peserta didik bukan pengguna aplikasi, melainkan pencari jati diri dan pengetahuan hidup.

Teknologi tetap penting, namun harus tunduk pada nilai-nilai pedagogis dan kemanusiaan. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna lahir ketika manusia kembali ditempatkan sebagai pusat pendidikan—berpikir, merasakan, dan memaknai—dengan teknologi sebagai sahabat perjalanan, bukan penguasa arah.

Communication Responsibility: Kunci Harmonisnya Sebuah Organisasi

Pernah nggak sih kamu merasa kerjaan jadi ribet gara-gara salah paham? Atau pernah lihat suasana kantor jadi kurang nyaman karena info yang ...