Merawat Relasi, Membangun Kepercayaan, dan Menjaga Martabat Sosial
Di tengah era digital yang serba cepat, networking sering direduksi menjadi sekadar pertukaran kartu nama, koneksi media sosial, atau relasi transaksional. Padahal, dalam budaya Nusantara—khususnya Jawa—networking telah lama memiliki makna yang jauh lebih dalam, berakar pada etika, tata krama, dan penghormatan sosial. Salah satu bentuk nyata dari nilai tersebut adalah totokromo.
Totokromo bukan sekadar tata bahasa atau unggah-ungguh berbicara, melainkan alat sosial yang efektif untuk membangun, menjaga, dan memperluas jaringan relasi secara bermartabat dan berkelanjutan.
Memahami Totokromo dalam Konteks Sosial
Totokromo merujuk pada kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam komunikasi, baik melalui pilihan bahasa, sikap tubuh, intonasi, maupun gestur, sesuai dengan konteks lawan bicara. Di dalamnya terkandung nilai: rasa hormat, kesadaran posisi sosial, empati dan tepa salira, etika dalam relasi.
Dalam praktiknya, totokromo mengajarkan bahwa relasi tidak dibangun dengan dominasi, tetapi dengan keselarasan dan saling menghargai.
Totokromo dan Esensi Networking
Networking yang efektif bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tetapi seberapa kuat kepercayaan yang terbangun. Totokromo berperan penting dalam hal ini karena:
- Menciptakan Kesan Pertama yang Positif, Cara menyapa, berbicara, dan bersikap yang sesuai membuat lawan bicara merasa dihargai. Kesan pertama yang baik sering kali menjadi pintu masuk relasi jangka panjang.
- Membangun Rasa Aman dan Nyaman, Totokromo menurunkan sekat psikologis. Orang merasa lebih terbuka ketika diperlakukan dengan sopan dan penuh empati.
- Menjaga Martabat Semua Pihak, Dalam networking berbasis totokromo, tidak ada pihak yang direndahkan atau ditinggikan secara berlebihan. Semua relasi dibangun dalam bingkai saling menghormati.
Totokromo dalam Dunia Profesional dan Pendidikan
Di dunia pendidikan, birokrasi, dan organisasi sosial, totokromo berfungsi sebagai modal sosial yang sangat berharga. Kepala sekolah, guru, dosen, maupun pejabat publik yang memahami totokromo akan lebih mudah:
- Menjalin kolaborasi lintas institusi
- Mengelola perbedaan pendapat
- Membangun kepercayaan dengan mitra kerja
- Menjaga hubungan meski terjadi dinamika kepentingan
Networking berbasis totokromo tidak bersifat instan, tetapi berkelanjutan dan berakar kuat.
Totokromo vs Networking Transaksional
Totokromo sebagai Alat Networking
Perbedaan mendasar antara totokromo dan networking transaksional terletak pada orientasinya:
- Networking transaksional: cepat, pragmatis, sering kali jangka pendek
- Totokromo: sabar, etis, dan berorientasi hubungan jangka panjang
Totokromo mengajarkan bahwa hasil tidak selalu harus diraih hari ini, tetapi relasi yang baik akan membuka banyak peluang di masa depan.
Relevansi Totokromo di Era Digital
Di era media sosial dan komunikasi daring, totokromo justru semakin relevan. Etika berbahasa, kesantunan berpendapat, dan kemampuan membaca konteks menjadi kunci agar jaringan digital tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Totokromo membantu kita:
- Berkomunikasi efektif di ruang publik digital
- Menghindari kesalahpahaman
- Menjaga reputasi personal dan institusional
Totokromo sebagai Soft Skill Strategis
Jika ditarik dalam perspektif kompetensi abad ke-21, totokromo sejatinya adalah soft skill tingkat tinggi yang mencakup:
- Komunikasi interpersonal
- Kecerdasan emosional
- Kesadaran budaya
- Etika profesional
Inilah kompetensi yang tidak tergantikan oleh teknologi dan justru semakin dicari dalam dunia kerja modern.
Totokromo bukan warisan masa lalu yang usang, melainkan modal sosial masa depan. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, networking yang kuat hanya dapat dibangun di atas fondasi etika, penghormatan, dan kepercayaan.
Totokromo mengajarkan kita bahwa relasi yang baik bukan dibangun dari kepentingan, tetapi dari cara memanusiakan manusia.
Dengan menjadikan totokromo sebagai alat networking, kita tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga menjaga martabat diri dan orang lain dalam setiap relasi yang terbangun.
No comments:
Post a Comment