Dalam beberapa waktu terakhir, aku sering bertanya pada diri sendiri.
Kenapa apresiasi terasa begitu mahal?
Kenapa membaca—aktivitas yang seharusnya membuka cakrawala—justru sering dihindari?
Pertanyaan itu tidak lahir dari kekecewaan semata, melainkan dari kegelisahan yang pelan-pelan tumbuh. Aku melihat begitu banyak upaya, gagasan, dan kerja sunyi yang berlalu tanpa sapaan. Bukan pujian yang dicari, bukan tepuk tangan yang ditagih—kadang hanya pengakuan sederhana bahwa seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Di sisi lain, aku juga melihat kebiasaan membaca semakin tersisih. Banyak orang ingin cepat sampai pada kesimpulan, tetapi enggan menempuh proses memahami. Judul dibaca, isi dilewati. Potongan kalimat diserap, konteks diabaikan. Padahal membaca bukan sekadar melihat huruf, melainkan melatih kesabaran, empati, dan keluasan berpikir.
Lalu aku mulai ragu.
Apa yang salah?
Apakah aku keliru membaca arah zaman?
Ataukah memang arah kami berbeda?
Mungkin aku bergerak dengan kecepatan yang tak sama. Mungkin aku memilih jalur yang tidak ramai dilalui. Atau mungkin, di tengah dunia yang serba cepat dan instan, memilih untuk berhenti sejenak—membaca, merenung, dan menghargai—dianggap sebagai langkah yang terlalu lambat.
Namun semakin aku berpikir, semakin aku menyadari satu hal: tidak semua perbedaan adalah kesalahan. Tidak semua kesunyian berarti penolakan. Ada nilai-nilai yang memang tidak populer hari ini, tetapi tetap penting untuk dijaga.
Apresiasi mengajarkan kita kerendahan hati.
Membaca melatih kita untuk tidak gegabah.
Keduanya adalah fondasi dari kedewasaan berpikir dan kematangan sikap.
Entahlah. Mungkin aku tidak perlu menemukan semua jawabannya sekarang. Yang pasti, aku harus terus berdiri pada pendirianku. Terus menghargai proses, terus membaca meski tak banyak yang melakukannya, terus memberi apresiasi meski jarang menerimanya.
Karena pada akhirnya, arah hidup bukan tentang mengikuti keramaian, melainkan tentang kesetiaan pada nilai yang kita yakini benar. Dan jika arah itu berbeda, biarlah—asal langkah ini tetap jujur dan bermakna.
No comments:
Post a Comment