Oleh: Dr. Mohammad Edi Suyanto, M.Pd (Pemerhati Pendidikan)
Petuah seorang guru untuk murid-muridnya, dan untuk kita semua sebagai manusia.
“Dimanapun kau berada, jagalah kejujuran sebagai modal integritasmu dalam mengemban amanah.”
Petuah ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya memuat kedalaman makna yang melampaui ruang kelas dan waktu. Kejujuran bukan sekadar perilaku yang tampak di hadapan manusia, melainkan sikap batin yang selalu hadir meski tak seorang pun menyaksikan. Ini adalah ukuran sejati kualitas diri, fondasi integritas, dan cermin iman seseorang.
Sebagai seorang guru, pesan ini bukan hanya ditujukan kepada murid, tetapi juga kepada diri sendiri dan seluruh umat manusia. Sebab kehidupan ini pada hakikatnya adalah rangkaian amanah: amanah sebagai anak, orang tua, pemimpin, pekerja, pendidik, dan sebagai hamba Allah di muka bumi.
Kejujuran sebagai Nafas Integritas
Integritas tidak lahir dari kepintaran, jabatan, atau pujian manusia. Integritas lahir dari keberanian untuk jujur, jujur pada kebenaran, jujur pada janji, dan jujur pada hati nurani. Orang yang jujur mungkin tampak kalah sesaat, tetapi ia sedang menanam kemenangan jangka panjang dalam hidupnya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa kejujuran bukan pilihan moral biasa, melainkan perintah ilahi. Allah memerintahkan manusia untuk bersama orang-orang yang benar (ash-shadiqin), karena kejujuran adalah jalan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Amanah: Ujian yang Melekat pada Kehidupan
Setiap peran dalam hidup membawa amanah. Amanah tidak selalu besar dan terlihat; sering kali hadir dalam keputusan kecil: tidak menipu, tidak mengkhianati kepercayaan, tidak memanipulasi kebenaran demi keuntungan sesaat.
Guru yang jujur akan melahirkan murid yang berkarakter. Pemimpin yang jujur akan membangun peradaban yang dipercaya. Manusia yang jujur akan hidup dengan hati yang tenang, karena ia tidak sedang berperang dengan nuraninya sendiri.
Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup
Dalam dunia yang penuh godaan, relativisme nilai, dan pembenaran atas ketidakjujuran, Al-Qur’an hadir sebagai kompas kehidupan. Al-Qura'an tidak hanya dibaca, tetapi direnungkan dan dihidupkan dalam tindakan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang tampak, melainkan dari ketakwaan dan kejujuran amalnya.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup berarti menjadikan kejujuran sebagai prinsip, amanah sebagai tanggung jawab, dan integritas sebagai jalan hidup—bukan hanya ketika diawasi manusia, tetapi terutama ketika hanya Allah yang menjadi saksi.
Pesan Guru untuk Sepanjang Hayat
Wahai anak-anakku, dan wahai diri kita semua, dimanapun kaki melangkah dan apapun peran yang diemban, jangan pernah menanggalkan kejujuran. Sebab saat semua bisa dibeli, kejujuranlah yang menjaga martabat. Saat semua bisa dipalsukan, integritaslah yang menjaga kemanusiaan.
Peganglah Al-Qur’an sebagai cahaya hidupmu. Jadikanlah penuntun langkah, penenang jiwa, dan pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang berhasil, tetapi tentang bermakna dan diridhai.
No comments:
Post a Comment