Wednesday, December 24, 2025

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pembelajaran: Menempatkan Manusia sebagai Subjek Utama Pendidikan

Oleh: Syaiful Rahman, M.Pd

Dalam diskursus pendidikan kontemporer, pembelajaran kerap direduksi menjadi persoalan teknologi: platform apa yang digunakan, aplikasi apa yang paling mutakhir, atau perangkat digital apa yang paling canggih. Seolah-olah kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang diadopsi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam melalui lensa filsafat pendidikan—khususnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi—kita akan menemukan bahwa esensi pembelajaran tidak pernah berpindah dari manusia itu sendiri.

Ontologi Pembelajaran: Hakikat Belajar adalah Proses Kemanusiaan

Secara ontologis, pembelajaran adalah proses kemanusiaan. Hal ini berangkat dari hakikat manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan memaknai pengalaman hidupnya. Peserta didik bukanlah objek yang sekadar menerima informasi, melainkan subjek yang secara aktif membangun makna atas apa yang dipelajarinya.

Dalam konteks ini, teknologi tidak memiliki eksistensi mandiri sebagai penentu kualitas belajar. Teknologi hanyalah entitas instrumental. Hakikat pembelajaran tetap bertumpu pada relasi manusia: guru dengan peserta didik, peserta didik dengan lingkungannya, serta peserta didik dengan realitas kehidupan yang dihadapinya. Ketika relasi ini melemah, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, pembelajaran akan kehilangan ruhnya.

Epistemologi Pembelajaran: Pengetahuan Tidak Sekadar Ditransfer, tetapi Dimaknai

Dari sisi epistemologi, pengetahuan tidak lahir dari transfer informasi semata, melainkan dari proses pemaknaan yang mendalam. Belajar bukan hanya mengetahui apa, tetapi memahami mengapa dan bagaimana pengetahuan itu relevan dengan kehidupan nyata.

Saat ini, kita sering terjebak pada perbincangan tentang kesenjangan teknologi (technology gap), seolah itu adalah problem utama pendidikan. Padahal, kebutuhan mendasar peserta didik justru terletak pada pendampingan belajar yang memungkinkan mereka berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna tidak bergantung pada pendekatan administratif atau terminologi kebijakan semata, tetapi pada kemampuan guru membimbing peserta didik untuk menemukan makna personal dan sosial dari apa yang mereka pelajari.

Pengetahuan menjadi hidup ketika ia beresonansi dengan pengalaman peserta didik, menjawab kebutuhan zamannya, dan memberi arah bagi masa depannya.

Aksiologi Pembelajaran: Nilai, Etika, dan Tujuan Pendidikan

Secara aksiologis, pembelajaran bermuara pada nilai dan tujuan. Untuk apa peserta didik belajar? Nilai apa yang dibangun? Manfaat apa yang dirasakan bagi kehidupan pribadi, sosial, dan kemanusiaan?

Teknologi, dalam perspektif nilai, hanyalah alat bantu,bukan menjadi “raja” yang mendikte arah pendidikan. Ketika teknologi dijadikan tujuan, bukan sarana, pembelajaran berisiko kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya. Sebaliknya, ketika teknologi ditempatkan secara proporsional—sebagai alat yang mendukung kerja guru, memperkaya pengalaman belajar, dan memfasilitasi diferensiasi—teknologi akan menjadi kekuatan yang bermakna.

Di sinilah peran krusial sumber daya manusia: guru dan tenaga kependidikan yang berintegritas, reflektif, dan visioner, serta sistem pengelolaan pendidikan yang berpihak pada proses, bukan sekadar hasil instan.

Mengembalikan Martabat Pembelajaran

Pada akhirnya, kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Guru bukan operator teknologi, melainkan pendidik yang menuntun makna. Peserta didik bukan pengguna aplikasi, melainkan pencari jati diri dan pengetahuan hidup.

Teknologi tetap penting, namun harus tunduk pada nilai-nilai pedagogis dan kemanusiaan. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna lahir ketika manusia kembali ditempatkan sebagai pusat pendidikan—berpikir, merasakan, dan memaknai—dengan teknologi sebagai sahabat perjalanan, bukan penguasa arah.

No comments:

Post a Comment

Communication Responsibility: Kunci Harmonisnya Sebuah Organisasi

Pernah nggak sih kamu merasa kerjaan jadi ribet gara-gara salah paham? Atau pernah lihat suasana kantor jadi kurang nyaman karena info yang ...