Friday, December 26, 2025

Membangun Kualitas Pembelajaran dari Hulu ke Hilir: Refleksi Peran Pemerintah, Sekolah, dan Guru

 

Oleh: Drs. Ponadi, M.Si

Hasil berbagai asesmen nasional, termasuk TKA, seharusnya tidak hanya dibaca sebagai capaian peserta didik, tetapi sebagai indikator kesehatan sistem pendidikan secara keseluruhan. Jika kualitas penalaran peserta didik masih menjadi persoalan, maka perbaikannya tidak bisa parsial. Pemerintah, sekolah, dan guru memiliki peran yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Peran Pemerintah: Saatnya Menyederhanakan, Bukan Menambah Beban

Pemerintah perlu melakukan refleksi serius terhadap beban mata pelajaran yang terlalu banyak. Realitas di sekolah menunjukkan bahwa terlalu banyak mata pelajaran justru menggerus kedalaman belajar. Peserta didik berpindah dari satu mapel ke mapel lain tanpa cukup waktu untuk memahami secara mendalam.

Idealnya, jumlah mata pelajaran cukup maksimal 10 mapel. Dengan jumlah yang lebih ramping, pembelajaran dapat difokuskan pada: penguatan konsep dasar, pengembangan nalar, dan keterkaitan antarmateri.

Selain itu, keberadaan KKM atau KKTP perlu dikaji ulang. Dalam praktik, angka-angka tersebut sering kali menjadi beban administratif dan psikologis, baik bagi guru maupun murid. Pembelajaran akhirnya terjebak pada kejar nilai, bukan kejar pemahaman. Yang lebih penting bukanlah angka ketuntasan, tetapi proses belajar yang benar dan bermakna.

Peran Sekolah: Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Terpercaya

Sekolah adalah ruang tumbuhnya proses belajar. Oleh karena itu, sekolah harus terus berbenah agar menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Kondisi fisik ruang kelas, termasuk suhu ruangan yang semakin panas akibat perubahan iklim, tidak bisa diabaikan. Ruang kelas yang pengap dan panas secara langsung menurunkan konsentrasi dan kualitas interaksi belajar.

Selain aspek fisik, sekolah juga harus menjaga iklim pembelajaran yang kondusif. Kepala sekolah memiliki peran strategis untuk:

  • aktif melaksanakan supervisi pembelajaran,
  • memastikan guru mengajar dengan pendekatan yang tepat,
  • serta menindaklanjuti hasil supervisi melalui evaluasi dan pendampingan.

Lebih jauh, sekolah harus mampu membangun kepercayaan di kalangan warga sekolah dan masyarakat, terutama dalam pengelolaan anggaran. Transparansi dan akuntabilitas akan memudahkan tumbuhnya partisipasi dan dukungan, termasuk sumbangan sukarela dari wali murid dan masyarakat. Kepercayaan adalah modal sosial yang tidak bisa dibangun secara instan, tetapi sangat menentukan keberlanjutan mutu sekolah.

Peran Guru: Menguatkan Fondasi Nalar dari Awal

Di ruang kelas, guru memegang peran paling langsung dalam membentuk cara berpikir murid. Pada 1–2 bulan pertama pembelajaran, guru seharusnya mengutamakan perbaikan konsep-konsep dasar Matematika. Tidak sedikit murid membawa miskonsepsi dari kelas sebelumnya, dan jika dibiarkan, akan menjadi penghambat serius pada materi berikutnya.

Guru perlu menempatkan pengembangan daya nalar sebagai prioritas utama. Hal ini dapat dilakukan dengan: 

  • banyak memberikan pertanyaan pemantik,
  • mengajak murid menjelaskan alasan di balik jawaban,
  • serta membangun diskusi dari kesalahan yang muncul.

Guru juga harus menjadi pendeteksi dini kesulitan murid. Saat latihan soal, guru tidak cukup berdiri di depan kelas, tetapi perlu berkeliling, memperhatikan langkah-langkah murid dalam menyelesaikan soal. Ketika ditemukan kekeliruan, guru segera mengangkatnya sebagai pertanyaan pemantik lanjutan, bukan langsung memberi jawaban.

Menghafal Boleh, Memahami Wajib

Murid boleh menghafal, tetapi pemahaman harus datang sebelum hafalan. Contoh sederhana seperti:

  • 3 × 2 = 2 + 2 + 2
  • 2 × 3 = 3 + 3

Keduanya sama hasilnya, tetapi maknanya berbeda. Pemahaman ini bisa diperkuat melalui konteks kehidupan sehari-hari, misalnya aturan minum obat pada resep dokter. Kesalahan memahami aturan minum obat bisa berakibat fatal, sebagaimana kesalahan memahami konsep matematika akan berakibat pada kesalahan berpikir berikutnya.

Hal yang sama berlaku pada:

  • operasi pembagian,
  • penjumlahan dan pengurangan bilangan positif–negatif,
  • pecahan dan desimal.

Contoh seperti:

  • 0 ÷ 1 = 0
  • 1 ÷ 0 = tak terdefinisi (tak terhingga)

perlu dijelaskan seterang-terangnya, bukan sekadar dihafalkan.

Matematika dan Kehidupan Nyata

Matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Simbol arus listrik bolak-balik, misalnya, dapat dijelaskan melalui grafik sinusoida atau fungsi sinus yang terlihat pada osiloskop. Contoh-contoh semacam ini menunjukkan bahwa Matematika bukan ilmu abstrak yang jauh dari realitas.

Karena itu, guru perlu memiliki wawasan luas tentang kehidupan sehari-hari, agar mampu mengaitkan konsep dengan realitas. Keterkaitan inilah yang menumbuhkan makna dan daya ingat jangka panjang pada murid.

Beragam Cara, Satu Kebenaran

Dalam latihan soal, guru sebaiknya memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, minimal dua cara yang berbeda tetapi sama-sama benar. Dengan demikian, murid belajar bahwa Matematika bukan sekadar satu jalan lurus, melainkan ruang berpikir yang kaya.

Ketika daya nalar murid sudah berkembang, maka pada bulan kedua, ketiga, dan seterusnya, guru cukup berperan sebagai pengarah. Murid akan mulai mampu menyelesaikan soal secara mandiri. Selalu ada murid yang menemukan solusi lebih dulu, dan murid lain menyusul dengan cara yang berbeda.

Pada tahap ini, guru ibarat memegang remote, mengarahkan alur, sementara murid bergerak aktif dalam pembelajaran.

Jika daya nalar murid berkembang dengan baik, mereka akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan Matematika dengan cepat, tepat, dan tuntas. Namun capaian ini hanya mungkin terwujud jika seluruh unsur pendidikan bergerak searah: Pemerintah menyederhanakan kebijakan, sekolah membangun lingkungan dan kepercayaan, serta guru menanamkan fondasi berpikir yang benar sejak awal.

Mutu pendidikan tidak lahir dari banyaknya mata pelajaran, tetapi dari kedalaman pemahaman dan kejernihan cara berpikir.

No comments:

Post a Comment

Communication Responsibility: Kunci Harmonisnya Sebuah Organisasi

Pernah nggak sih kamu merasa kerjaan jadi ribet gara-gara salah paham? Atau pernah lihat suasana kantor jadi kurang nyaman karena info yang ...