Tuesday, December 30, 2025

Totokromo sebagai Alat Networking

Merawat Relasi, Membangun Kepercayaan, dan Menjaga Martabat Sosial

Di tengah era digital yang serba cepat, networking sering direduksi menjadi sekadar pertukaran kartu nama, koneksi media sosial, atau relasi transaksional. Padahal, dalam budaya Nusantara—khususnya Jawa—networking telah lama memiliki makna yang jauh lebih dalam, berakar pada etika, tata krama, dan penghormatan sosial. Salah satu bentuk nyata dari nilai tersebut adalah totokromo.

Totokromo bukan sekadar tata bahasa atau unggah-ungguh berbicara, melainkan alat sosial yang efektif untuk membangun, menjaga, dan memperluas jaringan relasi secara bermartabat dan berkelanjutan.

Memahami Totokromo dalam Konteks Sosial

Totokromo merujuk pada kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam komunikasi, baik melalui pilihan bahasa, sikap tubuh, intonasi, maupun gestur, sesuai dengan konteks lawan bicara. Di dalamnya terkandung nilai: rasa hormat, kesadaran posisi sosial, empati dan tepa salira, etika dalam relasi.

Dalam praktiknya, totokromo mengajarkan bahwa relasi tidak dibangun dengan dominasi, tetapi dengan keselarasan dan saling menghargai.

Totokromo dan Esensi Networking

Networking yang efektif bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tetapi seberapa kuat kepercayaan yang terbangun. Totokromo berperan penting dalam hal ini karena:

  • Menciptakan Kesan Pertama yang Positif, Cara menyapa, berbicara, dan bersikap yang sesuai membuat lawan bicara merasa dihargai. Kesan pertama yang baik sering kali menjadi pintu masuk relasi jangka panjang.

  • Membangun Rasa Aman dan Nyaman, Totokromo menurunkan sekat psikologis. Orang merasa lebih terbuka ketika diperlakukan dengan sopan dan penuh empati.

  • Menjaga Martabat Semua Pihak, Dalam networking berbasis totokromo, tidak ada pihak yang direndahkan atau ditinggikan secara berlebihan. Semua relasi dibangun dalam bingkai saling menghormati.

Totokromo dalam Dunia Profesional dan Pendidikan

Di dunia pendidikan, birokrasi, dan organisasi sosial, totokromo berfungsi sebagai modal sosial yang sangat berharga. Kepala sekolah, guru, dosen, maupun pejabat publik yang memahami totokromo akan lebih mudah:

  • Menjalin kolaborasi lintas institusi
  • Mengelola perbedaan pendapat
  • Membangun kepercayaan dengan mitra kerja
  • Menjaga hubungan meski terjadi dinamika kepentingan

Networking berbasis totokromo tidak bersifat instan, tetapi berkelanjutan dan berakar kuat.

Totokromo vs Networking Transaksional

Totokromo sebagai Alat Networking

Perbedaan mendasar antara totokromo dan networking transaksional terletak pada orientasinya:

  • Networking transaksional: cepat, pragmatis, sering kali jangka pendek
  • Totokromo: sabar, etis, dan berorientasi hubungan jangka panjang

Totokromo mengajarkan bahwa hasil tidak selalu harus diraih hari ini, tetapi relasi yang baik akan membuka banyak peluang di masa depan.

Relevansi Totokromo di Era Digital

Di era media sosial dan komunikasi daring, totokromo justru semakin relevan. Etika berbahasa, kesantunan berpendapat, dan kemampuan membaca konteks menjadi kunci agar jaringan digital tidak berubah menjadi konflik terbuka.

Totokromo membantu kita:

  • Berkomunikasi efektif di ruang publik digital
  • Menghindari kesalahpahaman
  • Menjaga reputasi personal dan institusional

Totokromo sebagai Soft Skill Strategis

Jika ditarik dalam perspektif kompetensi abad ke-21, totokromo sejatinya adalah soft skill tingkat tinggi yang mencakup:

  • Komunikasi interpersonal
  • Kecerdasan emosional
  • Kesadaran budaya
  • Etika profesional

Inilah kompetensi yang tidak tergantikan oleh teknologi dan justru semakin dicari dalam dunia kerja modern.

Totokromo bukan warisan masa lalu yang usang, melainkan modal sosial masa depan. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, networking yang kuat hanya dapat dibangun di atas fondasi etika, penghormatan, dan kepercayaan.

Totokromo mengajarkan kita bahwa relasi yang baik bukan dibangun dari kepentingan, tetapi dari cara memanusiakan manusia.

Dengan menjadikan totokromo sebagai alat networking, kita tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga menjaga martabat diri dan orang lain dalam setiap relasi yang terbangun.

Sunday, December 28, 2025

Ketika Quantum Computing Mengubah Cara Kita Belajar dan Bekerja

Oleh: Syaiful Rahman, M. Pd.

Perubahan teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Hal ini selalu diikuti oleh perubahan cara berpikir, cara belajar, cara menilai, dan cara memilih sumber daya manusia. Quantum Computing adalah salah satu simbol paling kuat dari perubahan tersebut. Bukan semata karena kecanggihannya, tetapi karena hal ini merepresentasikan pergeseran paradigma dunia kerja dan kompetensi manusia.

Dunia pendidikan hari ini berada pada titik kritis: di satu sisi dituntut menyiapkan peserta didik untuk masa depan yang belum sepenuhnya dapat diprediksi, di sisi lain masih terjebak pada sistem pembelajaran dan asesmen yang linier, seragam, dan berorientasi hasil jangka pendek. Di sinilah relevansi Quantum Computing sebagai metafora sekaligus inspirasi bagi reformasi pendidikan.

Permintaan Pasar: Dari Penguasaan Konten ke Kompetensi Adaptif

Pasar kerja global—baik di sektor industri, teknologi, pendidikan, maupun layanan publik—semakin meninggalkan pendekatan berbasis ijazah dan hafalan. Yang dicari bukan lagi sekadar apa yang diketahui, tetapi bagaimana seseorang berpikir dan beradaptasi.

Sejalan dengan prinsip Quantum Computing yang bekerja dalam ruang kemungkinan, pasar kerja kini menuntut kompetensi berikut:

  • Berpikir kritis dan sistemik
  • Kemampuan memecahkan masalah kompleks
  • Literasi data dan teknologi
  • Kreativitas dan inovasi
  • Kemampuan belajar ulang (relearning dan unlearning)
  • Kecerdasan sosial, etika, dan kolaborasi

Kompetensi-kompetensi ini tidak bisa dibentuk melalui pembelajaran yang semata-mata mengejar ketuntasan materi. Namun membutuhkan pembelajaran mendalam, kontekstual, dan reflektif.

Pembelajaran dalam Paradigma “Quantum”

Quantum Computing mengajarkan bahwa satu masalah dapat memiliki banyak jalur solusi. Pendidikan yang relevan dengan permintaan pasar harus mengadopsi prinsip yang sama.

Implikasinya dalam pembelajaran:

  • Peserta didik diberi ruang untuk mengeksplorasi banyak kemungkinan jawaban
  • Proses berpikir lebih dihargai daripada sekadar jawaban akhir
  • Pembelajaran berbasis proyek, riset kecil, dan pemecahan masalah nyata diperkuat
  • Interdisiplin dan lintas konteks menjadi keniscayaan

Dalam konteks ini, sekolah dan perguruan tinggi bukan lagi pabrik lulusan, tetapi ekosistem pengembangan potensi manusia.

Penerimaan Mahasiswa Baru: Seleksi yang Perlu Bertransformasi

Sistem penerimaan mahasiswa baru selama ini cenderung menekankan kemampuan kognitif sempit: kecepatan menjawab, ketepatan memilih, dan penguasaan materi tertentu. Padahal, dunia perguruan tinggi dan dunia kerja membutuhkan mahasiswa yang:

  • Mampu berpikir abstrak dan reflektif
  • Tahan menghadapi ketidakpastian
  • Memiliki motivasi belajar jangka panjang
  • Mampu mengintegrasikan pengetahuan lintas bidang

Jika ditarik pada paradigma Quantum Computing, seleksi mahasiswa seharusnya tidak hanya mencari “nilai tertinggi”, tetapi profil potensi terbaik. Ini dapat dilakukan melalui:

  • Asesmen berbasis pemecahan masalah kontekstual
  • Portofolio proyek dan karya
  • Tes literasi berpikir dan penalaran
  • Wawancara atau asesmen non-kognitif yang terstruktur

Dengan demikian, seleksi tidak hanya menyaring, tetapi juga memetakan potensi.

Lapangan Kerja dan Ketidaksesuaian (Mismatch) Kompetensi

Salah satu masalah besar pendidikan adalah ketidaksesuaian antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Banyak lulusan berprestasi secara akademik, tetapi gagap menghadapi masalah nyata.

Quantum Computing memberi pesan penting: sistem kompleks tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang:

  • Fleksibel menghadapi perubahan peran
  • Mampu bekerja dalam tim lintas disiplin
  • Cepat belajar teknologi baru
  • Memiliki integritas dan etos kerja kuat

Pendidikan harus berhenti mengejar kepastian semu berupa angka nilai, dan mulai menyiapkan lulusan yang siap hidup dan bekerja dalam ketidakpastian.

Sistem Asesmen: Dari Mengukur Hasil ke Memahami Proses

Paradigma asesmen saat ini masih didominasi oleh: Tes pilihan ganda, Penilaian sumatif, Fokus pada skor dan peringkat

Dalam perspektif Quantum Computing, pendekatan ini terlalu menyederhanakan realitas belajar yang kompleks. Asesmen seharusnya:

  • Bersifat formatif dan berkelanjutan
  • Mengukur proses berpikir, strategi, dan refleksi
  • Menggunakan berbagai instrumen (portofolio, proyek, observasi, refleksi diri)
  • Memberikan umpan balik bermakna, bukan sekadar angka
  • Asesmen bukan alat seleksi semata, melainkan alat pembelajaran itu sendiri.

Peran Guru dan Pemimpin Pendidikan

Di tengah tuntutan pasar dan perubahan teknologi, peran guru dan kepala sekolah menjadi semakin strategis. Mereka bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi:

  • Penjaga nilai kemanusiaan dalam pendidikan
  • Pengarah pengembangan kompetensi masa depan
  • Penghubung antara dunia belajar dan dunia kerja

Pemimpin pendidikan dengan quantum mindset mampu melihat pendidikan sebagai sistem hidup, bukan mesin birokrasi.

Quantum Computing mengingatkan kita bahwa masa depan tidak bisa dihadapi dengan cara berpikir masa lalu. Pendidikan yang relevan dengan permintaan pasar, seleksi mahasiswa, dan dunia kerja bukanlah pendidikan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling adaptif, manusiawi, dan bermakna.

"Ketika pasar menuntut kompetensi kompleks, pendidikan tidak boleh menjawabnya dengan asesmen sederhana."

Sudah saatnya pembelajaran, seleksi, dan asesmen dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem yang menyiapkan manusia utuh—cerdas secara intelektual, tangguh secara moral, dan lentur menghadapi perubahan.

Friday, December 26, 2025

Mengapa Problem Solving Lebih Penting dari Sekadar Nilai?

Oleh: Syaiful Rahman, M.Pd

Praktisi Pendidikan 

Dalam kehidupan nyata, manusia jarang dihadapkan pada persoalan yang memiliki satu jawaban benar. Sebagian besar masalah justru kompleks, kontekstual, dan sarat konsekuensi. Oleh karena itu, kecerdasan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menjawab dengan cepat, melainkan sebagai kemampuan mengurai masalah, menyusun berbagai opsi solusi, serta mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Pembelajaran di sekolah semestinya menjadi ruang latihan aman untuk itu—tempat peserta didik belajar berpikir sebelum memutuskan, bukan sekadar mengejar hasil akhir.

Kecerdasan Problem Solving dan Pengambilan Keputusan Bijak

Secara teoretis, problem solving dan decision making adalah dua proses yang saling terkait. Problem solving berfokus pada menghasilkan alternatif, sedangkan pengambilan keputusan bijak berfokus pada memilih alternatif terbaik dengan pertimbangan rasional, etis, dan kontekstual.

Kebijaksanaan dalam mengambil keputusan ditandai oleh:

  • Kemampuan menunda reaksi emosional
  • Kesadaran akan dampak jangka pendek dan jangka panjang
  • Pertimbangan nilai, norma, dan konsekuensi sosial
  • Kesiapan menerima risiko dan tanggung jawab

Dengan kata lain, tidak semua solusi yang benar secara logika selalu bijak secara moral atau kontekstual.

Mengurai Opsi Solusi sebagai Jalan Menuju Kebijaksanaan

Mengurai opsi solusi melatih peserta didik untuk:

  • Tidak terburu-buru mengambil keputusan
  • Membandingkan berbagai kemungkinan
  • Menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Seorang siswa yang menghadapi konflik dengan teman tidak serta-merta membalas, tetapi mempertimbangkan: berdialog, meminta mediasi guru, atau memberi waktu menenangkan diri.

Dalam pengelolaan keuangan keluarga, keputusan bijak tidak hanya memilih solusi tercepat, tetapi yang paling berkelanjutan dan minim risiko.

Proses ini membentuk kearifan berpikir, bukan sekadar kecerdasan teknis.

Implikasi dalam Pembelajaran

Pembelajaran yang berorientasi pada problem solving harus memberi ruang pada latihan mengambil keputusan bijak, bukan hanya menemukan jawaban.

Strategi yang dapat diterapkan:

  • Masalah Terbuka dengan Banyak Solusi, Peserta didik diminta memilih satu solusi dan menjelaskan alasan pemilihannya.
  • Diskusi Etika dan Dampak Keputusan, Guru mengajak peserta didik membahas: “Apa dampaknya jika solusi ini diterapkan?”
  • Simulasi dan Role Play, Peserta didik berperan sebagai pengambil keputusan dalam situasi nyata.
  • Refleksi Keputusan, Peserta didik diajak mengevaluasi: Apakah keputusan ini adil?, Siapa yang terdampak?, Apa risiko yang mungkin muncul?

Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya melatih kecerdasan kognitif, tetapi juga kedewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak.

Dari Kelas ke Kehidupan Nyata

Individu yang terbiasa mengurai opsi dan mengambil keputusan secara bijak akan menunjukkan karakter:

  • Tenang dalam tekanan
  • Tidak reaktif dan impulsif
  • Mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai
  • Bertanggung jawab atas pilihannya

Dalam kepemimpinan, kecerdasan ini tampak pada kemampuan memilih keputusan yang tepat, manusiawi, dan berkelanjutan, bukan sekadar populer atau instan.

Kecerdasan dalam mengurai opsi-opsi solusi menjadi bermakna ketika diakhiri dengan pengambilan keputusan yang bijak. Pembelajaran yang sejati bukanlah sekadar melatih peserta didik menemukan jawaban, melainkan membimbing mereka berpikir matang sebelum memilih.

Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari kecerdasannya dalam berpikir, tetapi dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan—baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan.

Membangun Kualitas Pembelajaran dari Hulu ke Hilir: Refleksi Peran Pemerintah, Sekolah, dan Guru

 

Oleh: Drs. Ponadi, M.Si

Hasil berbagai asesmen nasional, termasuk TKA, seharusnya tidak hanya dibaca sebagai capaian peserta didik, tetapi sebagai indikator kesehatan sistem pendidikan secara keseluruhan. Jika kualitas penalaran peserta didik masih menjadi persoalan, maka perbaikannya tidak bisa parsial. Pemerintah, sekolah, dan guru memiliki peran yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Peran Pemerintah: Saatnya Menyederhanakan, Bukan Menambah Beban

Pemerintah perlu melakukan refleksi serius terhadap beban mata pelajaran yang terlalu banyak. Realitas di sekolah menunjukkan bahwa terlalu banyak mata pelajaran justru menggerus kedalaman belajar. Peserta didik berpindah dari satu mapel ke mapel lain tanpa cukup waktu untuk memahami secara mendalam.

Idealnya, jumlah mata pelajaran cukup maksimal 10 mapel. Dengan jumlah yang lebih ramping, pembelajaran dapat difokuskan pada: penguatan konsep dasar, pengembangan nalar, dan keterkaitan antarmateri.

Selain itu, keberadaan KKM atau KKTP perlu dikaji ulang. Dalam praktik, angka-angka tersebut sering kali menjadi beban administratif dan psikologis, baik bagi guru maupun murid. Pembelajaran akhirnya terjebak pada kejar nilai, bukan kejar pemahaman. Yang lebih penting bukanlah angka ketuntasan, tetapi proses belajar yang benar dan bermakna.

Peran Sekolah: Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Terpercaya

Sekolah adalah ruang tumbuhnya proses belajar. Oleh karena itu, sekolah harus terus berbenah agar menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Kondisi fisik ruang kelas, termasuk suhu ruangan yang semakin panas akibat perubahan iklim, tidak bisa diabaikan. Ruang kelas yang pengap dan panas secara langsung menurunkan konsentrasi dan kualitas interaksi belajar.

Selain aspek fisik, sekolah juga harus menjaga iklim pembelajaran yang kondusif. Kepala sekolah memiliki peran strategis untuk:

  • aktif melaksanakan supervisi pembelajaran,
  • memastikan guru mengajar dengan pendekatan yang tepat,
  • serta menindaklanjuti hasil supervisi melalui evaluasi dan pendampingan.

Lebih jauh, sekolah harus mampu membangun kepercayaan di kalangan warga sekolah dan masyarakat, terutama dalam pengelolaan anggaran. Transparansi dan akuntabilitas akan memudahkan tumbuhnya partisipasi dan dukungan, termasuk sumbangan sukarela dari wali murid dan masyarakat. Kepercayaan adalah modal sosial yang tidak bisa dibangun secara instan, tetapi sangat menentukan keberlanjutan mutu sekolah.

Peran Guru: Menguatkan Fondasi Nalar dari Awal

Di ruang kelas, guru memegang peran paling langsung dalam membentuk cara berpikir murid. Pada 1–2 bulan pertama pembelajaran, guru seharusnya mengutamakan perbaikan konsep-konsep dasar Matematika. Tidak sedikit murid membawa miskonsepsi dari kelas sebelumnya, dan jika dibiarkan, akan menjadi penghambat serius pada materi berikutnya.

Guru perlu menempatkan pengembangan daya nalar sebagai prioritas utama. Hal ini dapat dilakukan dengan: 

  • banyak memberikan pertanyaan pemantik,
  • mengajak murid menjelaskan alasan di balik jawaban,
  • serta membangun diskusi dari kesalahan yang muncul.

Guru juga harus menjadi pendeteksi dini kesulitan murid. Saat latihan soal, guru tidak cukup berdiri di depan kelas, tetapi perlu berkeliling, memperhatikan langkah-langkah murid dalam menyelesaikan soal. Ketika ditemukan kekeliruan, guru segera mengangkatnya sebagai pertanyaan pemantik lanjutan, bukan langsung memberi jawaban.

Menghafal Boleh, Memahami Wajib

Murid boleh menghafal, tetapi pemahaman harus datang sebelum hafalan. Contoh sederhana seperti:

  • 3 × 2 = 2 + 2 + 2
  • 2 × 3 = 3 + 3

Keduanya sama hasilnya, tetapi maknanya berbeda. Pemahaman ini bisa diperkuat melalui konteks kehidupan sehari-hari, misalnya aturan minum obat pada resep dokter. Kesalahan memahami aturan minum obat bisa berakibat fatal, sebagaimana kesalahan memahami konsep matematika akan berakibat pada kesalahan berpikir berikutnya.

Hal yang sama berlaku pada:

  • operasi pembagian,
  • penjumlahan dan pengurangan bilangan positif–negatif,
  • pecahan dan desimal.

Contoh seperti:

  • 0 ÷ 1 = 0
  • 1 ÷ 0 = tak terdefinisi (tak terhingga)

perlu dijelaskan seterang-terangnya, bukan sekadar dihafalkan.

Matematika dan Kehidupan Nyata

Matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Simbol arus listrik bolak-balik, misalnya, dapat dijelaskan melalui grafik sinusoida atau fungsi sinus yang terlihat pada osiloskop. Contoh-contoh semacam ini menunjukkan bahwa Matematika bukan ilmu abstrak yang jauh dari realitas.

Karena itu, guru perlu memiliki wawasan luas tentang kehidupan sehari-hari, agar mampu mengaitkan konsep dengan realitas. Keterkaitan inilah yang menumbuhkan makna dan daya ingat jangka panjang pada murid.

Beragam Cara, Satu Kebenaran

Dalam latihan soal, guru sebaiknya memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, minimal dua cara yang berbeda tetapi sama-sama benar. Dengan demikian, murid belajar bahwa Matematika bukan sekadar satu jalan lurus, melainkan ruang berpikir yang kaya.

Ketika daya nalar murid sudah berkembang, maka pada bulan kedua, ketiga, dan seterusnya, guru cukup berperan sebagai pengarah. Murid akan mulai mampu menyelesaikan soal secara mandiri. Selalu ada murid yang menemukan solusi lebih dulu, dan murid lain menyusul dengan cara yang berbeda.

Pada tahap ini, guru ibarat memegang remote, mengarahkan alur, sementara murid bergerak aktif dalam pembelajaran.

Jika daya nalar murid berkembang dengan baik, mereka akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan Matematika dengan cepat, tepat, dan tuntas. Namun capaian ini hanya mungkin terwujud jika seluruh unsur pendidikan bergerak searah: Pemerintah menyederhanakan kebijakan, sekolah membangun lingkungan dan kepercayaan, serta guru menanamkan fondasi berpikir yang benar sejak awal.

Mutu pendidikan tidak lahir dari banyaknya mata pelajaran, tetapi dari kedalaman pemahaman dan kejernihan cara berpikir.

Wednesday, December 24, 2025

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pembelajaran: Menempatkan Manusia sebagai Subjek Utama Pendidikan

Oleh: Syaiful Rahman, M.Pd

Dalam diskursus pendidikan kontemporer, pembelajaran kerap direduksi menjadi persoalan teknologi: platform apa yang digunakan, aplikasi apa yang paling mutakhir, atau perangkat digital apa yang paling canggih. Seolah-olah kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang diadopsi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam melalui lensa filsafat pendidikan—khususnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi—kita akan menemukan bahwa esensi pembelajaran tidak pernah berpindah dari manusia itu sendiri.

Ontologi Pembelajaran: Hakikat Belajar adalah Proses Kemanusiaan

Secara ontologis, pembelajaran adalah proses kemanusiaan. Hal ini berangkat dari hakikat manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan memaknai pengalaman hidupnya. Peserta didik bukanlah objek yang sekadar menerima informasi, melainkan subjek yang secara aktif membangun makna atas apa yang dipelajarinya.

Dalam konteks ini, teknologi tidak memiliki eksistensi mandiri sebagai penentu kualitas belajar. Teknologi hanyalah entitas instrumental. Hakikat pembelajaran tetap bertumpu pada relasi manusia: guru dengan peserta didik, peserta didik dengan lingkungannya, serta peserta didik dengan realitas kehidupan yang dihadapinya. Ketika relasi ini melemah, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, pembelajaran akan kehilangan ruhnya.

Epistemologi Pembelajaran: Pengetahuan Tidak Sekadar Ditransfer, tetapi Dimaknai

Dari sisi epistemologi, pengetahuan tidak lahir dari transfer informasi semata, melainkan dari proses pemaknaan yang mendalam. Belajar bukan hanya mengetahui apa, tetapi memahami mengapa dan bagaimana pengetahuan itu relevan dengan kehidupan nyata.

Saat ini, kita sering terjebak pada perbincangan tentang kesenjangan teknologi (technology gap), seolah itu adalah problem utama pendidikan. Padahal, kebutuhan mendasar peserta didik justru terletak pada pendampingan belajar yang memungkinkan mereka berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna tidak bergantung pada pendekatan administratif atau terminologi kebijakan semata, tetapi pada kemampuan guru membimbing peserta didik untuk menemukan makna personal dan sosial dari apa yang mereka pelajari.

Pengetahuan menjadi hidup ketika ia beresonansi dengan pengalaman peserta didik, menjawab kebutuhan zamannya, dan memberi arah bagi masa depannya.

Aksiologi Pembelajaran: Nilai, Etika, dan Tujuan Pendidikan

Secara aksiologis, pembelajaran bermuara pada nilai dan tujuan. Untuk apa peserta didik belajar? Nilai apa yang dibangun? Manfaat apa yang dirasakan bagi kehidupan pribadi, sosial, dan kemanusiaan?

Teknologi, dalam perspektif nilai, hanyalah alat bantu,bukan menjadi “raja” yang mendikte arah pendidikan. Ketika teknologi dijadikan tujuan, bukan sarana, pembelajaran berisiko kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya. Sebaliknya, ketika teknologi ditempatkan secara proporsional—sebagai alat yang mendukung kerja guru, memperkaya pengalaman belajar, dan memfasilitasi diferensiasi—teknologi akan menjadi kekuatan yang bermakna.

Di sinilah peran krusial sumber daya manusia: guru dan tenaga kependidikan yang berintegritas, reflektif, dan visioner, serta sistem pengelolaan pendidikan yang berpihak pada proses, bukan sekadar hasil instan.

Mengembalikan Martabat Pembelajaran

Pada akhirnya, kualitas pembelajaran dan capaian hasil belajar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Guru bukan operator teknologi, melainkan pendidik yang menuntun makna. Peserta didik bukan pengguna aplikasi, melainkan pencari jati diri dan pengetahuan hidup.

Teknologi tetap penting, namun harus tunduk pada nilai-nilai pedagogis dan kemanusiaan. Pembelajaran yang mendalam dan bermakna lahir ketika manusia kembali ditempatkan sebagai pusat pendidikan—berpikir, merasakan, dan memaknai—dengan teknologi sebagai sahabat perjalanan, bukan penguasa arah.

Monday, December 22, 2025

Kejujuran: Modal Integritas dalam Mengemban Amanah Kehidupan

Oleh: Dr. Mohammad Edi Suyanto, M.Pd (Pemerhati Pendidikan)

Petuah seorang guru untuk murid-muridnya, dan untuk kita semua sebagai manusia.

“Dimanapun kau berada, jagalah kejujuran sebagai modal integritasmu dalam mengemban amanah.”

Petuah ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya memuat kedalaman makna yang melampaui ruang kelas dan waktu. Kejujuran bukan sekadar perilaku yang tampak di hadapan manusia, melainkan sikap batin yang selalu hadir meski tak seorang pun menyaksikan. Ini adalah ukuran sejati kualitas diri, fondasi integritas, dan cermin iman seseorang.

Sebagai seorang guru, pesan ini bukan hanya ditujukan kepada murid, tetapi juga kepada diri sendiri dan seluruh umat manusia. Sebab kehidupan ini pada hakikatnya adalah rangkaian amanah: amanah sebagai anak, orang tua, pemimpin, pekerja, pendidik, dan sebagai hamba Allah di muka bumi.

Kejujuran sebagai Nafas Integritas

Integritas tidak lahir dari kepintaran, jabatan, atau pujian manusia. Integritas lahir dari keberanian untuk jujur, jujur pada kebenaran, jujur pada janji, dan jujur pada hati nurani. Orang yang jujur mungkin tampak kalah sesaat, tetapi ia sedang menanam kemenangan jangka panjang dalam hidupnya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kejujuran bukan pilihan moral biasa, melainkan perintah ilahi. Allah memerintahkan manusia untuk bersama orang-orang yang benar (ash-shadiqin), karena kejujuran adalah jalan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Amanah: Ujian yang Melekat pada Kehidupan

Setiap peran dalam hidup membawa amanah. Amanah tidak selalu besar dan terlihat; sering kali hadir dalam keputusan kecil: tidak menipu, tidak mengkhianati kepercayaan, tidak memanipulasi kebenaran demi keuntungan sesaat.

Guru yang jujur akan melahirkan murid yang berkarakter. Pemimpin yang jujur akan membangun peradaban yang dipercaya. Manusia yang jujur akan hidup dengan hati yang tenang, karena ia tidak sedang berperang dengan nuraninya sendiri.

Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Dalam dunia yang penuh godaan, relativisme nilai, dan pembenaran atas ketidakjujuran, Al-Qur’an hadir sebagai kompas kehidupan. Al-Qura'an tidak hanya dibaca, tetapi direnungkan dan dihidupkan dalam tindakan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang tampak, melainkan dari ketakwaan dan kejujuran amalnya.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup berarti menjadikan kejujuran sebagai prinsip, amanah sebagai tanggung jawab, dan integritas sebagai jalan hidup—bukan hanya ketika diawasi manusia, tetapi terutama ketika hanya Allah yang menjadi saksi.

Pesan Guru untuk Sepanjang Hayat

Wahai anak-anakku, dan wahai diri kita semua, dimanapun kaki melangkah dan apapun peran yang diemban, jangan pernah menanggalkan kejujuran. Sebab saat semua bisa dibeli, kejujuranlah yang menjaga martabat. Saat semua bisa dipalsukan, integritaslah yang menjaga kemanusiaan.

Peganglah Al-Qur’an sebagai cahaya hidupmu. Jadikanlah penuntun langkah, penenang jiwa, dan pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang berhasil, tetapi tentang bermakna dan diridhai.

Sunday, December 21, 2025

Menjadi Manusia Berdaya: Melampaui Batas Melalui Belajar, Berbagi, dan Beramal

Dalam hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, seringkali kita terjebak dalam perlombaan pencapaian materi yang tidak ada habisnya. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang sebenarnya membuat hidup kita bernilai? Jawabannya tidak terletak pada apa yang kita kumpulkan, melainkan pada apa yang kita asah dan berikan. Dengan landasan "Bismillah", setiap langkah kecil berubah menjadi ibadah, dan setiap usaha menjadi berkah.

Belajar: Investasi yang Tak Pernah Merugi

Secara argumentatif, belajar bukanlah fase yang berhenti saat kita menggenggam ijazah. Di era disrupsi ini, berhenti belajar adalah awal dari ketertinggalan. Namun lebih dari sekadar skill, belajar adalah cara kita menghormati akal budi pemberian Tuhan.

Jangan pernah lelah belajar. Mengapa? Karena dunia ini terlalu luas untuk dipahami hanya dari satu sudut pandang. Setiap ilmu baru yang kita serap adalah "senjata" untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

Berbagi dan Beramal: Logika Keberkahan

Banyak orang takut berbagi karena khawatir akan kekurangan. Namun, secara filosofis dan empiris, berbagi justru memperluas kapasitas diri. Berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh, justru akan semakin menajamkan pemahaman. Begitu juga dengan beramal; ia adalah bentuk rasa syukur yang paling nyata.

Beramal bukan soal jumlah, melainkan soal keberlanjutan. Sebuah tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten (istiqomah) jauh lebih berdampak daripada satu gebrakan besar yang kemudian hilang tanpa bekas. Inilah yang membangun integritas dan martabat seorang manusia.

Trilogi Karakter: Asah, Asih, Asuh

Bangsa kita mengenal filosofi luhur yang menjadi fondasi kepemimpinan dan relasi antarmanusia: Asah, Asih, dan Asuh.

Asah (Mencerdaskan): Kita berkewajiban untuk terus meningkatkan kompetensi diri dan membantu orang lain menjadi lebih pintar.

Asih (Mengasihi): Pengetahuan tanpa empati adalah kekosongan. Dengan Asih, kita memperlakukan sesama dengan kasih sayang, memastikan tidak ada hati yang terluka dalam proses kemajuan.

Asuh (Membimbing): Sebagai pribadi yang berpengalaman, kita punya tanggung jawab moral untuk membimbing generasi setelah kita, memastikan estafet kebaikan terus berjalan.

Memulai dengan Niat, Mengakhiri dengan Manfaat

Menjalankan prinsip hidup "Belajar, Berbagi, dan Beramal" serta memegang teguh "Asah, Asih, Asuh" memang melelahkan secara fisik, namun menenangkan secara batin. Lelah itu wajar, namun menyerah bukan pilihan.

Mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

_Bismillah, mari terus melangkah_

Wednesday, December 3, 2025

Urgensi Servant Leadership di Era Ketidakpastian: Ketika Kepercayaan Menjadi Mata Uang Kepemimpinan

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, pembahasan mengenai trust dalam kepemimpinan terus mengemuka. Tidak hanya di ranah pemerintahan atau birokrasi, tetapi juga di satuan pendidikan menjadi tempat ragam karakter, budaya, dan masa depan generasi dibentuk. Banyak pihak bertanya: Apa yang sebenarnya sedang salah? Mengapa kepercayaan kepada pemimpin semakin menipis?

Pertanyaan ini tidak boleh kita abaikan, harus menjadi pintu masuk untuk refleksi dan evaluasi bersama, karena kegagalan kepemimpinan bukan hanya disebabkan oleh pemimpin, tetapi juga karena dinamika hubungan antara pemimpin dan mereka yang dipimpin.

Ketika Trust Menjadi Krisis, Servant Leadership Menjadi Jawaban

Dalam situasi di mana otoritas formal tidak lagi cukup untuk meyakinkan orang, gaya kepemimpinan servant leadership menjadi semakin relevan. Robert K. Greenleaf, tokoh yang mempopulerkan konsep ini, menegaskan bahwa pemimpin harus terlebih dahulu menjadi pelayan, melayani kebutuhan perkembangan orang lain sebelum mengejar kekuasaan dan jabatan.

Servant leadership menjadi penting karena:

  • Membangun kepercayaan melalui keteladanan, bukan sekadar aturan.
  • Menempatkan manusia sebagai fokus, bukan prosedur semata.
  • Mendorong partisipasi tim, bukan dominasi pemimpin.
  • Menghadirkan empati dan kepekaan, bukan pengendalian berlebihan.
  • Memulihkan relasi yang retak, bukan sekadar menyelesaikan administrasi.

Di era ketika ketidakpercayaan tumbuh akibat birokrasi yang kaku, komunikasi yang minim, dan budaya kerja yang kurang sehat, servant leadership menjadi jembatan pemulih.

Apa yang Salah? Sebuah Pertanyaan untuk Kita Semua

Jika kita jujur, masalah dalam kepemimpinan tidak berdiri sendiri. Ada beberapa persoalan yang sering muncul:

  • Pemimpin terlena dengan jabatan, bukan pada pelayanan.
  • Bawahan kehilangan keberanian untuk memberi umpan balik, karena takut salah atau dianggap menentang.
  • Keputusan dibuat sepihak, tidak melibatkan yang terdampak.
  • Budaya birokratis menekan kreativitas, sehingga hubungan antar manusia menjadi mekanis.
  • Evaluasi tidak dilakukan secara terbuka, sehingga kesalahan terus berulang.

Namun kita juga perlu menegaskan, masalah kepemimpinan bukan hanya tanggung jawab pemimpin. Warga yang dipimpin pun memiliki peran penting dalam membangun budaya organisasi.

Perlu Evaluasi Bersama: Melihat ke Dalam dan ke Luar Diri

Era saat ini menuntut budaya organisasi yang dewasa. Bukan hanya meminta pemimpin menjadi bijak, tetapi juga mengajak kita semua untuk:

  • Melihat ke dalam diri, menyadari kontribusi kita terhadap masalah dan solusi.
  • Melihat ke luar diri, memahami dinamika lingkungan yang mempengaruhi keputusan pemimpin.
  • Menguatkan komunikasi dua arah, bukan hanya menunggu instruksi.
  • Membangun keberanian untuk menyampaikan pendapat, dengan cara yang santun dan konstruktif.
  • Menumbuhkan empati, karena setiap orang membawa beban dan perannya masing-masing.

Ketika pemimpin dan timnya sama-sama mau berefleksi, organisasi akan menemukan titik keseimbangan baru yang lebih sehat.

Saatnya Menemukan Titik Bijak

Tantangan era sekarang membutuhkan pemimpin yang berjiwa pelayan dan tim yang berjiwa kolaboratif. Kita tidak bisa lagi bekerja berdasarkan pola lama: hierarki kaku, komunikasi searah, dan kepemimpinan yang hanya mengandalkan otoritas formal.

Titik bijak harus kita temukan bersama, melalui diskusi yang terbuka, defleksi berkala, kesediaan menerima masukan, transparansi dalam kebijakan, keputusan yang mempertimbangkan seluruh pihak

Inilah bentuk kepemimpinan yang mencerdaskan,kepemimpinan yang bukan hanya memerintah, tetapi juga mendidik.

Pengambilan Keputusan yang Bijak adalah Pendidikan bagi Semua

Pada akhirnya, setiap kebijakan yang dibuat pemimpin bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini. Lebih dari itu, menjadi pembelajaran moral, sosial, dan profesional bagi seluruh warga organisasi.

Ketika pemimpin mengambil keputusan dengan transparan, berlandaskan keadilan, empati, dan kebutuhan bersama, warga organisasi belajar tentang nilai-nilai penting: integritas, tanggung jawab, dan kematangan.

Dan ketika warga organisasi ikut serta dalam proses refleksi, mereka pun belajar menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.

Bersama Melayani, Bersama Bertumbuh

Servant leadership menjadi penting karena dunia hari ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memimpin dengan kekuasaan, tetapi dengan ketulusan. Pemimpin yang tidak sekadar meminta dihormati, tetapi menginspirasi. Pemimpin yang tidak ingin berdiri sendiri, tetapi mengajak semua berjalan bersama.

Saatnya kita kembali ke akar kepemimpinan: melayani, memanusiakan, dan bertumbuh bersama.

Tuesday, December 2, 2025

ASN dan Aksi Nyata Menuju Zero Waste 2029

Menuju target Zero Waste 2029, Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran yang sangat strategis sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Tidak hanya sebagai pelaksana kebijakan, ASN juga berperan sebagai teladan perilaku, fasilitator pemberdayaan masyarakat, dan kolaborator lintas sektor. Kontribusi ASN dalam pengelolaan sampah dan sanitasi menjadi kunci sukses tercapainya transformasi lingkungan di berbagai wilayah.

Tindak Lanjut di Lingkungan ASN: Teladan untuk Zero Waste

Perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Di lingkungan kerja maupun rumah, ASN diharapkan menerapkan perilaku yang konsisten dalam pengelolaan sampah, antara lain:

  • Melakukan pemilahan sampah berdasarkan organik, anorganik, dan residu.
  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, baik berupa kantong plastik, botol, maupun kemasan.
  • Menjadi role model Zero Waste bagi rekan kerja, keluarga, hingga masyarakat sekitar.

Keteladanan ini memiliki efek domino yang sangat penting: apa yang dilakukan ASN akan diperhatikan dan ditiru masyarakat. Dengan demikian, budaya Zero Waste tidak berhenti pada slogan, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Penggerakan Masyarakat: Memperkuat Bank Sampah dan Sanitasi

ASN juga berperan aktif dalam menggerakkan masyarakat, khususnya dalam penguatan pengelolaan sampah di tingkat lokal. Peran ini diwujudkan melalui:

  • Pendampingan pembentukan dan penguatan bank sampah, baik di desa maupun kawasan perkotaan.
  • Edukasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menumbuhkan kesadaran mengurangi sampah dari sumbernya.
  • Pengenalan komposting sebagai upaya memanfaatkan sampah organik.
  • Mendorong peningkatan sanitasi layak, termasuk percepatan desa menuju ODF (Open Defecation Free) dan implementasi STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

Dengan pendampingan ASN, masyarakat tidak hanya menjadi objek program, tetapi berubah menjadi subjek perubahan yang mandiri dan berdaya.

Kolaborasi dan Monitoring: Membangun Ekosistem Gerakan

Keberhasilan Zero Waste tidak bisa dicapai oleh satu pihak. ASN memiliki tugas penting dalam merajut kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti:

  • Sekolah, melalui pembiasaan peduli lingkungan sejak dini.
  • Komunitas dan lembaga swadaya masyarakat, sebagai motor gerakan komunitas dan advokasi.
  • Dunia usaha, terutama dalam pengurangan sampah dari sumber produksi serta dukungan CSR.

Selain itu, ASN melakukan monitoring rutin untuk mengevaluasi pengurangan volume sampah, pengelolaan TPS3R, serta perbaikan sanitasi di wilayah binaan. Monitoring ini memastikan program tidak hanya berjalan di awal, tetapi terus meningkat kualitasnya.

ASN sebagai Penggerak Transformasi Lingkungan

Sebagai pelaksana kebijakan publik, ASN memainkan empat peran strategis:

  • Role Model → menunjukkan langsung perilaku Zero Waste.
  • Fasilitator → mengedukasi dan mendampingi masyarakat.
  • Kolaborator → merangkul pemerintah daerah, komunitas, dan dunia usaha.
  • Pengawal Kebijakan → memastikan program berjalan sesuai target dan terukur dampaknya.

Keempat peran ini menjadi fondasi dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Sinergi untuk Masa Depan Indonesia yang Lebih Hijau

Target Zero Waste 2029 bukan sekadar angka, tetapi tekad bersama untuk mengurangi beban bumi dan mewariskan lingkungan yang layak kepada generasi mendatang. Keberhasilan agenda ini sangat bergantung pada sinergi antara ASN, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa.

Dengan komitmen, teladan, dan kolaborasi yang kuat, ASN dapat menjadi agen perubahan yang memastikan setiap wilayah mampu mengelola sampah dengan bijak dan memiliki sanitasi yang layak.

Zero Waste bukan mimpi—ink adalah masa depan yang dapat kita capai bersama.

Communication Responsibility: Kunci Harmonisnya Sebuah Organisasi

Pernah nggak sih kamu merasa kerjaan jadi ribet gara-gara salah paham? Atau pernah lihat suasana kantor jadi kurang nyaman karena info yang ...